T E V A Z U

A journal of life and modest style.






Musim semi telah tiba. Banyak bunga-bunga cantik mulai tumbuh di sepanjang jalan. Mataharipun sudah tak malu lagi untuk bersinar lama di atas sana. Cuaca yang cerah seperti ini membuat semangat dalam diri bertambah. Tidak ada lagi langit gelap seperti dalam musim gugur sampai musim dingin lalu. Ah, rasanya ingin terus keluar rumah menikmati cuaca dan udara yang segar ini.

Cuaca di Hannover sebenarnya belum sepenuhnya hangat. Minggu lalu tiba-tiba salju (dengan tetap ada matahari), tapi hari ini dan minggu-minggu berikutnya diperkirakan akan cerah terus, in syaa Allah. Senang rasanya, suasana musim panas sudah mulai terasa. Itu berarti, tidak ada lagi jaket tebal dan badan bisa saja mulai berkeringat karna akan mulai banyak aktivitas di luar ruangan.

Bagi saya yang belum diijinkan dokter untuk melakukan olahraga cardio, keringat tetap bisa keluar ketika sedang mengejar bus, tram atau naik tangga dalam satu bangunan. Dan bagi saya, keringat itu membuat badan lebih segar dalam bergerak. Seperti yang kita tahu, keringat bisa memperlancar sirkulasi darah, menurunkan stress, membuang racun dari dalam tubuh, membakar kalori, dan membuat kulit lebih sehat.

Tetapi, bagi sebagian orang mungkin tidak begitu suka dengan keringat karena bisa menimbulkan mikroorganisme berbahaya seperti jamur yang bisa membuat kulit gatal-gatal dan kemerahan. Dan yang paling sering terjadi di negara tropis maupun negara lain di musim panas, adalah keringat bisa meninggalkan bercak kekuningan pada pakaian di beberapa area tertentu, juga meninggalkan bau yang kurang sedap.

Seperti yang saya alami sekarang. Saya sudah mulai terganggu dengan bau keringat orang-orang sekitar ketika naik trasnportasi umum. Dengan begitu, saya juga jadi lebih aware akan kondisi badan saya sendiri. Dari mulai mandi secara rutin, memakai lotion yang teksturnya light, sampai pemilihan body scent yang wanginya tidak terlalu strong seperti Vitalis Body Scent - Bless.



Saya pilih Vitalis dengan varian Bless karena tertarik dengan wewangian bunga-bunga yang ada di dalamnya, seperti jasmine, dewberry, apple, freesia dan gourmand. Hasil campuran bunga-bunga tersebut menciptakan harum yang manis sekali dan juga segar.

Satu tips dari saya, pakai body scent atau parfum sebelum pakai baju agar wanginya tahan lama dan tidak merusak pakaian, kerudung maupun perhiasan yang kita pakai. Cukup semprotkan pada bagian-bagian tertentu seperti, leher, pergelangan tangan, maupun pergelangan kaki. Jadi, #memesonaitu adalah membuat diri sendiri nyaman terlebih dahulu, lalu orang di sekliling kita pun bisa merasakan kenyamanan seperti yang kita rasakan.

Kalau kalian, lebih suka varian bunga Vitalis yang mana ? Ikuti flower test disini yuk untuk tahu yang mana pilihan varian yang cocok dengan kepribadianmu! Ssssttt, siapa tahu kamu bisa menangkan 1 buah iPhone 6S atau 5 voucher Sodexo serta berbagai hampers lainnya lho!

Good luck!


adalah ketika kita bisa memetakan visi hidup kita sendiri. Bisa sebagai perempuan yang bekerja atau tidak bekerja, bisa sebagai perempuan yang sudah menjadi ibu ataupun belum menjadi ibu. Menurut saya itu penting, karena hal itu menjadi dasar untuk menentukan misi apa yang akan kita pilih dan jalankan untuk mencapainya.




Saya selalu terpesona setiap kali melihat perempuan yang hidupnya terencana dengan baik. Dilihat dari cara berpikir, berpakaian, beragama dan bersosial semua dilakukan dengan baik dan benar. Atau dengan istilah lain yang sering kita dengar, adanya keseimbangan antara habluminallah dan habluminannaas.

Konsisten dalam perencanaan hidup memang bukan hal yang mudah. Tetapi akan jauh lebih sulit apabila kita tidak tahu kita harus apa dan bagaimana dalam hidup ini. Memetakan rencana hidup juga bukan berarti kita dituntut untuk selalu mengikuti pola hidup orang lain yang sama. Itulah mengapa, kita harus membuat pola sendiri sesuai pemikiran dan kepribadian kita masing-masing.

Di umur yang sebentar lagi memasuki kepala tiga, membuat saya dan suami wajib menyisihkan waktu untuk membicarakan tentang rencana keluarga kami. Mulai dari tempat tinggal sekarang, tempat tinggal saat masa pensiun nanti tiba, pendidikan akademik dan non akademik untuk buah hati kami kelak, bahkan sampai peningkatan kualitas diri sebagai makhluk beragama juga bersosial. Semua sering kami bicarakan dengan suasana santai, tanpa ambisi yang berlebihan. Dengan cara inilah, paling tidak kami jadi bisa tahu tugas masing-masing dari kami harus bagaimana untuk mewujudkan tujuan keluarga  kecil kami.

Peta hidup ini bisa juga menjadi rem atau pengingat kita disaat kita sedang diuji. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam hidup akan selalu ada ujiannya. Entah bersifat kesenangan, atau kesulitan. Jadi karena kita sudah tahu ujungnya akan seperti apa, in syaa Allah kita bisa lebih mudah menerima dan menjalankan ujian-ujian yang akan datang.

Ada contoh menarik lain. Saya mempunyai teman (seumuran), yang selama hidupnya dan sampai detik ini, dia tidak tahu tujuan hidupnya apa. Bahkan saat masalah besar melanda, dia juga tidak tahu apa masalahnya dan kenapa masalah-masalah tersebut bisa terjadi. Jadi otomatis dia pun tidak tahu harus menjalani  hidup seperti apa dan bagaimana. Katanya “gue mah let it flow aja”. Beruntung, dia dikelilingi oleh keluarga serta teman-teman yang baik, yang selalu ada dan menolongnya  saat dia bingung menghadapi ujian hidup. Meskipun seringkali, nasihat itu tidak digubrisnya. Ya seperti yang saya katakan, dia kan tidak tau apa masalahnya, jadi dia juga tidak tahu harus cari solusi yang bagaimana. Ada tidak di lingkungan kalian, orang-orang yang seperti ini ?

Tapi kembali lagi, bagaimana punya hidup yang tidak bertujuan ? Seperti travelling, bagaimana kita bisa memutuskan akan naik kendaraan apa ke negara tujuan kita, kalau negara tujuannya saja kita tidak tahu ?

Jadi #memesonaitu bukanlah semata-mata tentang fisik yang sempurna, harta yang berlimpah, seberapa tinggi akademik yang sudah kita raih, seberapa besar omset perusahaan yang sudah kita hasilkan, seberapa banyak branded stuff yang sudah kita miliki, seberapa sering kita travelling, seberapa banyak orang yang kenal kita, dan lain sebagainya.






Seperti yang saya jelaskan di awal paragraf, #memesonaitu disaat kita sebagai wanita tau tujuan akhir hidup kita, tau kapasitas diri sendiri akan tujuan tersebut, berani memilah mana yang baik dilakukan dalam kehidupan beragama dan bersosial, dan istiqomah dalam menjalani segala ikhtiar untuk mencapai tujuan tersebut sesuai porsinya, tanpa ambisi yang berlebihan & tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi.

Kalau menurut kamu, apa arti #memesonaitu ?

Yuk ikutan blog competition “Memesona Itu“ dengan cara, daftar di http://www.pancarkanpesona.com/memesonaitu?utm_source=blog%20puteri lalu submit blog link dan post cerita kalian sebelum 10 April 2017. Akan ada hadiah 2 kamera mirrorless untuk 2 orang, dan 5 voucher MAP sebesar  IDR 1.000.000 serta 20 hampers menarik.

Klik disini untuk informasi lebih lanjut.
Refleksi itu apa sih ?

Menurut KBBI, arti Refleksi adalah sebagai berikut :

/re·flek·si/ /réfléksi/ 1. Gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar: penyair pada hakikatnya adalah suatu -- dari masyarakat sekelilingnya; 2. Gerakan otot (bagian badan) yang terjadi karena suatu hal dari luar dan di luar kemauan atau kesadaran; 3. Cerminan; gambaran: penggunaan bahasa merupakan -- dari kecintaan terhadap bahasa itu.

Lalu bagaimana tentang refleksi seseorang dalam kehidupan sosialnya ? Apakah benar kalimat "don't judge a book by it's cover ?" Ataukah justru kita boleh menilai sesorang dari luarnya, karna hati siapa yang tahu ?

Hannover, Germany
Hari ini saya sengaja keluar rumah sendiri untuk pertama kalinya pasca laparotomy. Nekat memberanikan diri karena cuaca sangat bagus untuk bisa dinikmati. Jadi saya putuskan untuk pergi ke area Rathaus. Sejak pindah ke Hannover, saya belum sempat mengunjungi touristy places disini. Begitu sampai di depan Rathaus, terdapat danau kecil yang cantik dan terlihat merefleksikan beberapa pohon yang ada disekitarnya. Karena pohonnya cantik, maka refleksinya pun cantik. Lalu saya langsung teringat pada negara tercinta saya, Indonesia. Bukan, bukan homesick. Tapi saya sedih melihat semua yang terjadi di Indonesia beberapa bulan ini. Negeri yang indah & kaya sedang "diacak-acak" keindahan & kekayaannya. Bukan hanya oleh petinggi negeri ini, tapi juga oleh rakyatnya sendiri.

Kalau boleh dihubungkan dengan topik "Reflection" kali ini, saya mau bertanya pada semua teman se-akidah saya, bagaimana kah kalian merefleksikan keimanan kalian dalam kehidupan sehari-hari ? Apakah refleksi luar tak menjadi pertimbangan & penilaian kalian ketika memilih sekolah, perusahaan, partner bisnis bahkan jodoh ? Saya coba berikan sedikit analogi ya.

Analogi pertama :
Misal si A ingin mendaftar ke Universitas XY. Lalu si B, teman sekolahnya A mengatakan bahwa Universitas XY itu jelek karna pernah tawuran (hanya lihat di media tanpa tahu dalamnya kampus tersebut seperti apa dan bagaimana). Lalu A telan mentah-mentah perkataan si B dan tak jadi mendaftar di Universitas XY. Sedangkan si B terus menfitnah sekolah tersebut ke temannya yang lain, hanya agar dia bisa satu sekolah lagi dengan teman-temannya.


Analogi kedua :
Misal, si Rangga ingin khitbah si Cinta. Lalu sebelumnya, Rangga cari tau dulu bagaimana refleksi seorang Cinta dari habluminnallah-nya dan habluminannaas-nya. Bukan percaya gosip si ini dan si itu. Juga bukan dari proses pacaran yang (terima atau tidak) memang banyak mudharatnya.

Kira-kira, mana yang lebih sering terjadi ? Analogi pertama atau kedua ? Menilai orang hanya dari yang tampak lalu menyebar fitnah, atau menilai orang dari yang tampak plus cari tahu dari yang sengaja disembunyikan lalu bijak dalam mengambil keputusan ?

Kalau boleh bersuara sedikit saja, saya disini bukan mau sok pintar dan sok suci seperti yang kalian sering tuduhkan ke para pendukung #AksiDamai411. Tapi hanya saja, saya ingin mengingatkan bahwa kita perlu melihat refleksi seperti apa yang kita (sebagai muslim) pantulkan selama ini.

Sudah sempurna kah sholat kita hingga kita berhak menghujat ulama kita yang ibadah sholatnya jelas jauuuh diatas kita ? Sudah rutinkah sedekah kita hingga kita berhak memfitnah teman se-akidah kita dibayar IDR 500K per orang saat #AksiDamai411 ? Sudah banyakkah surat dalam Al-Qur'an dan hadith yang kita hafal hingga kita berhak memaki hafidz dan ahli tafsir ? Jika jawabannya belum, dan masih hidup sebagai manusia hedon', maka diamlah, perbaiki diri dan cukup berdoa agar bangsa ini masih diselamatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan begitu, kita turut membantu merefleksikan keindahan Islam yang sebenarnya.

Ayat dibawah ini adalah pesan dari langit untuk kalian yang sering bertanya "Untuk apa bela agama Allah ? Padahal Allah itu tetap mulia tanpa kalian bela. Pun dengan Qur'an yang tetap suci & mulia tanpa kalian bela".

QS. Al - Hadid (57 : 25)

 أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖوَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚإِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa".

Tulisan ini saya buat bukan untuk memperkeruh suasana. Juga bukan untuk menghakimi teman-teman muslim saya yang kontra akan #AksiDamai411. Ini untuk saya sebagai self reminder karena murni ini keresahan hati saya yang jelas masih miskin ilmu. Juga untuk teman-teman yang pro agar tetap tawadhu.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melindungi kita dan negeri ini dari segala fitnah dan kedzoliman.














Assalamu'alaikum,

Menurut kalian, apa sih arti pertemanan ? Kalian happy nggak sih dengan pertemanan kalian saat ini ? Atau teman-teman kalian hanya dianggap sebagai orang yang sebatas menemani kalian belanja dan makan minum ? Atau sudah bisakah kalian membedakan arti teman atau sahabat yang sebenarnya ?

Saya orang yang jarang sekali posting foto teman-teman saya di Instagram. Saya jauh lebih nyaman berbagi kebahagiaan di Path, karna ruang lingkup yang memang hanya teman saya yang bisa lihat. Bagi saya, perempuan-perempuan cantik di foto dalam post saya kali ini adalah beberapa orang penting yang Allah hadiahkan untuk saya. Dari semasa kita kecil sampai di umur yang sekarang pasti kita punya sahabat kan ? Nah, mereka lah salah satu sahabat saya di umur saya yang sekarang, di dunia fashionpreneur. Kalau di masa sekolah sampai kuliah, ya berbeda lagi.

Apakah sahabat harus orang yang selalu chat dengan kita tiap hari ? Atau harus ketemu tiap saat ? No. Kami bertemu dan chat justru jarang sekali. Apalagi teteh-teteh Monel yang berdomisili di Bandung membuat saya susah ketemu mereka. Makanya paling happy kalau ada event di Bandung. Bisa sambil kerja sekalian silaturahmi. Berbeda dengan Kak Novie yang mudah saya temui di Jakarta. Saya sering main ke rumahnya pun ke klinik kecantikan bersama.

Banyak ilmu dan inspirasi yang saya dapatkan dari para senior saya ini. Merekapun tak pelit ilmu. Bahkan terlalu sering menjadi penolong saya ketika diawal-awal saya merintis bisnis. Pertemanan kami tidak seromantis pertemanan anak-anak muda dimasanya. Ketika kami bertemu, kami cerita banyak hal yang terjadi dalam hidup masing-masing. Kalau ada masalah, tak segan kami bercerita satu sama lain. Trust, itu yang jadi pegangan pertemanan di usia sekarang. Bukanlah teman yang bisa diajak happy--happy saja, melainkan teman yang bisa mendengarkan apa masalah kita, bicara salah meskipun teman kita salah, membela apabila teman kita benar. Kalau dari penjelasan saya , kesannya serius banget ya pertemanannya ? Aslinya mah enggaa.. Of course we did much silly things. Dan nggak lupa, biar terasa muda terus, sesi foto nggak boleh ketinggalan dong. Hehe. Kalau sudah jarang ketemu, melihat album foto adalah salah satu hal yang menyenangkan. Serta bisa menjadi motivasi untuk segera silaturahmi kembali.

Dear kakak-kakakku. Semoga ukhuwah ini sampai ke Jannah-Nya ya.

Aamiin yaa rabbal aalaamiin.


Assalamu'alaikum Wr. Wb

Pernahkah anda rindu dengan sesorang yang belum pernah anda temui sebelumnya ? Bahkan anda tidak tahu bagaimana parasnya, tetapi anda bisa rindu sampai gemetar dan menangis ? Pernah ?

Kali kedua saya merasakan itu. Yang pertama ketika membaca tentang Rasulullah SAW dan siang ini tentang Sayidina Umar bin Khattab RA.

Sudah tidak perlu diceritakan lagi bagaimana perjuangan Rasulullah SAW untuk kita para muslim bahkan non muslim. Seorang khalifah yang begitu luar biasa melekat dalam hati kita.

Sekarang, setengah hari ini, saya habiskan waktu dengan membaca dan menonton sejarah Sayidina Umar bin Khattab RA ketika menjakankan kepemimpinannya di Baitul Maqdis. Terharu sekali melihat bagaimana Umar begitu rendah hati & bersahaja ketika datang ke Yerussalem untuk serah terima kunci bersama Uskup Sopronius. Lalu ketika ditawari sholat di gereja oleh Uskup tersebut, beliau menolak karena sifat visionernya.

Beliau mengatakan : "Terima kasih, jika saya sholat di tempat suci anda, para pengikut saya yang tidak mengerti dan orang-orang yang akan kesini di masa yang akan datang, akan mengambil alih bangunan ini kemudian mengubahnya menjadi masjid hanya karna saya pernah sholat di dalamnya. Untuk menghindari kesulitan ini, dan supaya gereja kalian tetap sebagaimana adanya, maka saya akan sholat di luar". Masha Allah.. Dan pelataran yang dulu dipakai Umar untuk sholat, sudah berubah menjadi bangunan yang sekarang dikenal dengan "Masjid Omar", dekat sekali dengan gereja al-qiyamah. Jadi bisa dilihat bagaimana toleransi yang Umar ajarkan kepada kita.

Namun, ketika membaca bagian Umar memerdekakan dan menghormati Yahudi dulu, hati ini pedih. Pedih sekali mengingat bagaimana Yahudi dengan tega kepada muslim disana sekarang. Mereka lupa tentang toleransi yang Umar tinggalkan disana. Sebagai sesama muslim, hati ini seperti tertusuk merasakan apa yang muslim lain rasakan. Bahkan menyebut "Allahu Akbar" saja mereka dilarang masuk Masjidil Aqsha selama 6 bulan. Dan itu bukan saja terjadi kepada umat muslim, tetapi juga umat kristiani sempat beberapa kali dilarang untuk beribadah di gereja al-qiyamah. Astaghfirullah.

Saya tidak ingin membicarakan Yahudi terlalu banyak. Tapi perjuangan khalifah-khalifah terdahulu, bisa menjadi bahan evaluasi untuk para pemimpin di Indonesia dan seluruh dunia, bahwa pintar saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin. Pemimpin harus tegas, arif, adil, bijaksana, mementingkan aqidah serta tawadhu.

Dan pemimpin bukan hanya tentang memimpin negara, tapi juga memimpin diri sendiri serta keluarga. Umar bin Khatab yang sudah dijamin masuk Syurga begitu takut akan larangan Allah SWT, bagaimana kita yang belum pasti masuk dalam Jannah-Nya ?

Semoga kita diberikan umur untuk menjadi insan yang beriman serta berilmu. Semoga kita dan para pemimpin di Indonesia diberikan umur untuk memimpin diri sendiri, keluarga, agama, bangsa dan negara untuk mematuhi seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan khalifah-khalifah tersebut di Jannah-Nya. Dan semoga kita diberikan umur dan rizki untuk safar ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

Aamiin ya rabbal alaamiin.


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Apa yang ada di dalam pikiran teman-teman kalau melihat foto hasil USG ? Biasanya pasti mengira itu hasil kehamilan kan ? Hehe. Tapi kali ini bukan. Ini bukan hasil kehamilan. Tapi nggak nolak juga kalau didoakan hamil. Hehe.

Saya termasuk perempuan yang kalau haid sakit di tiga hari pertama. Istilah kedokterannya adalah dysmenorrhea. Dulu sewaktu SMA kelas X, saya pernah pingsan di sekolah karena nyeri haid ini. Bahkan sampai habis satu tabung gas oksigen yang besar. Dan saya tidak pernah cerita ke orang tua saya, karena saya terbiasa diam kalau sakit. Entahlah, saya merasa saya nggak mau membebankan pikiran orang tua saya kalau saya sakit. Dan itu masih menjadi kebiasaan, bahkan terbawa ke suami setelah menikah.

Menikah jarak jauh dan membiarkan suami tidak tenang disana adalah hal yang saya hindari. Kadang, saya berpikir itu baik, kadang juga saya berpikir itu tidak baik untuk diri saya sendiri. Mungkin kebiasaan ini bisa berkurang kalau kami sudah tinggal satu atap.

Ya, sebenarnya postingan ini adalah untuk suami saya yang sedang panik memikirkan istrinya di Jakarta yang sakit beberapa hari ini. Jadi minggu lalu, di awal haid bulan ini, saya kesakitan sampai menangis. Saya tidak bisa menutupi itu dari suami karena kami sedang rutin-rutinnya berkomunikasi. Langsung suami saya khawatir disana dan memohon pada saya untuk segera periksakan keluhan ini ke obgyn. Saya pun langsung mencari info obgyn terbaik di Jakarta.

Sebagai intermezzo, dulu ketika masa kuliah saya pernah cek ke obgyn RSPAD Gatot Soebroto, sendirian. Saya diminta untuk cek urin dan USG. Saya pikir kenapa ini kok sampai diminta cek urin ? Ternyata susternya berpikir saya hamil. Hehe. Hasilnya apa ? Dokter bilang otot rahim saya kencang sekali. Tidak ada kista ataupun miom. Alhamdulillah.. Lalu saya tanya, apa solusinya ? Jawabannya, "menikah". Hmmm baiklah kalau gitu. Berarti saya akan merasa kesakitan lama karena saya belum mau menikah waktu itu.

Singkat cerita, kejadian itu berulang lagi kemarin. Ya, kemarin 14 Mei 2015 saya tumbang. Perut saya sakit sekali sampai entah saya pingsan atau ketiduran, dan baru sadar jam 3 pagi dini hari. Ibu saya ketuk-ketuk pintu kamar katanya, dan sempat berpikir kenapa kok tumben saya tidur dari sore nggak keluar kamar untuk makan malam.

Suami saya sudah panik kemarin. Karena kesakitan kali ini aneh. Kenapa aneh ? Karena kemarin sebenarnya hari pertama saya selesai dari haid. Jadi seharusnya tidak sakit karena tidak dalam masa menstruasi. Ditambah besok saya akan keluar kota beberapa hari. Wah, saya tau banget pasti suami saya ga tenang disana.

Tanpa pikir panjang - saya juga takut kenapa-kenapa - lalu saya bikin appointment dengan Dr. Handi Suryana, di RS. Royal Taruma Daan Mogot. Jauh sekali dari rumah saya, tapi saya bela-belain karena pernah baca di blog Alodita dan beberapa blog lain bahwa dokter ini sangat komunikatif. Alhamdulillah, dokternya ada jadwal hari Jum'at. Jadi saya tidak perlu menunggu lama sampai kembali ke Jakarta lagi.

Saya sengaja tidak bilang suami ke RS dengan alasan, nanti saja kalau sudah ada hasil pasti dari dokter. Jadi suami tidak khawatir disana. Sampai di RS rasanya….. Galau! Hehehe. Kalau dulu cek sendiri sebelum menikah biasa saja karena belum ada suami. Kalau sekarang, yaa rasanya sedih sudah ada suami tapi cek ke dokter kandungan tetap sendiri. Sementara pasien lain datang dengan pelukan suaminya yang nggak lepas-lepas. Ah.. Yasudah.. Resiko LDR kan yaah.. Positifnya saya jadi lebih mandiri dan nggak manja. :)

Ketika diperiksa, dokter sempet bilang "ini ada kista satu". Drop. Saya kaget bukan main, mau nangis tapi jadinya bengong. Lalu saya bilang, pelan-pelan saja diperiksa lagi. Lalu di zoom in dan alhamdulillah dokter bilang lagi "maaf-maaf ini otot kamu nih. Kencang sekali. Rahim kamu baik-baik saja. Kalau bukan genetik, solusinya kamu harus hamil." Komentar yang sama seperti dulu saya cek. Saya pun diberikan beberapa vitamin agar rahim saya tidak infeksi dan disarankan kembali ketika ingin memulai program hamil nanti. Kata dr. Handi, supaya rahimnya nanti semakin kuat.

Aaah alhamdulillah.. Bahagia itu sederhana sekali memang. Belum diberikan kehamilan oleh Allah, tapi diberikan kesehatan rahim. Meskipun sakitnya bukan main, saya tetap harus jaga rahim ini baik-baik.

Ketika perjalanan pulang, suami whatsapp "aku seneng kamu sounds better hari ini." :) Hehe, jadi nggak sabar pingin cepet pulang dan nulis blog ini biar suami tau kenapa istrinya membaik.

Well doc, I'll be back with my husband one day, in shaa Allah.

Und mein Mann, Mas Ezza. Aku baik-baik saja sayang. Semoga kamu nggak panik lagi yah. :)


Kira-kira begitulah judul yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat ini. Ya, Turki begitu melekat di hati saya. Dua minggu lalu saya ke Turki selama satu bulan. Kok lama banget ? Engga kok, justru sebentar dari setahun lebih saya berpisah dari suami yang menetap di Jerman. Kalau saja masa visa turis di Turki berlaku tiga bulan seperti Maroko, kami juga dengan senang hati tinggal di Turki selama itu.

Setiap tahun harapan saya masih sama, yaitu mendapatkan visa untuk berkumpul dengan suami saya. Tiga minggu setelah menikah, Mas Ezza kembali ke Hannover melanjutkan studinya. Dan dari saat itu sampai ke saat-saat suami saya ingin sidang thesis, saya tetap berjuang dengan visa saya. Besar sekali keinginan saya untuk menemani Mas sidang, melihat pencapaian beliau. Tapi Allah belum kasih kesempatan itu untuk saya.

Dua kali sudah visa saya ditolak oleh pihak kedutaan. Entah apa yang membuat saya begitu susah memasuki negara itu. Nggak mudah menerima keputusan kedutaan dengan kondisi yang kurang mendukung. Saya memang masih menjadi pribadi yang kadang suka mengeluh, suka iri kalau melihat teman-teman bisa mengurus suaminya langsung (bukan via skype/viber/whatsapp), suka iri kalau lagi sakit bisa ditemani suami, juga suka sakit hati kalau ada yang mudah menghakimi saya sebagai istri yang tidak bertanggung jawab. Tapi kalau melihat hal-hal itu saja, saya nggak bisa berkembang. Saya akan jadi punya banyak penyakit hati. Dan itu nggak boleh!

Dari sekian banyak keluhan yang saya sebutkan tadi, yang paling menyesakkan dada adalah saat dimana orang lain dengan mudahnya mengatakan saya bukan istri yang bertanggung jawab karena nggak mau susul suami. Mereka beranggapan bahwa saya gila kerja hingga nggak mau meninggalkan pekerjaan saya demi suami. Apalagi yang mengatakan itu juga bukan stranger melainkan orang-orang yang ada di lingkungan kami. Sakit sekali sampai saya pernah jatuh sakit. Aneh rasanya kenapa mereka mudah mengatakan itu padahal hubungan saya dan mereka juga tidak terlalu dekat. Tidak pernah ngobrol ataupun cerita-cerita masalah pribadi. Saya bahkan juga interospeksi apa sih salah saya sampai mereka pedas sekali ketika mengatakan itu. And I've got nothing! Ya itu, karena saya tidak berhubungan dekat dengan mereka.

Dibalik kesakitan itu semua, saya juga bersyukur bahwa saya sudah menikah dengan laki-laki yang shalih, sudah menikah dengan laki-laki yang sayang dengan orangtua saya, sudah menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab akan dirinya ketika merantau (jadi pasti akan bertanggung jawab terhadap diri saya dan pernikahan kami), sudah menikah dengan laki-laki yang mau menerima segala kekurangan yang ada di dalam diri saya, sudah menikah dengan laki-laki yang selalu mendukung semua yang saya lakukan. Ah.. rasanya kalau mau menggambarkan Mas Ezza begitu menyenangkan! He's the answer from Allah alhamdulillah. And I'm blessed!

LDR menguatkan saya menjadi istri mandiri. Berat ya memang berat. Tapi kalau terus-terusan mengeluh rasanya hidup saya kok nggak berguna sekali. Saya bangkit. Berusaha berpikir positif bahwa inilah jihad saya sebagai istri. Justru inilah moment penghargaan saya terhadap diri saya. Saya tidak perlu menjadi pribadi pendendam. Juga tidak perlu menjelaskan kepada mereka apa-apa saja yang sudah saya alami hingga saya belum bisa menyusul suami. Seperti kutipan yang ramai dibicarakan di sosial media "Langit tak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi. People know you're good if you're good". Yes, I'll prove the people that doubted me wrong. Tapi saya juga nggak berhenti untuk mendoakan mereka, semoga suatu saat silaturahim kita bisa kembali baik. In shaa Allah. Dan untuk para istri yang sudah berjuang bertahun-tahun demi visa juga, terima kasih. Terima kasih sekali sudah menginspirasi dan menguatkan saya bahwa it's just the matter of time and Allah knows what best for us.

Tidak bisa masuk Jerman atau Schengen bukan berarti tidak bisa bertemu untuk melepas kangen. Ada dua pilihan saat itu, Maroko dan Turki. Dua negara yang visanya mudah bahkan tidak perlu visa untuk memasuki negara tersebut. Seperti yang sudah disebutkan di awal paragraf bahwa Maroko bebas visa dengan lama tiga bulan, sedangkan Turki butuh e-visa dengan lama satu bulan. Maroko terlihat menyenangkan karena waktu yang lebih lama, tapi setelah googling, agak susah hidup di Afrika tanpa ada satupun yang kami kenal. Sudah mencari-cari kontak PPI Maroko, tapi sulit. Akhirnya pilihan jatuh ke Turki dan Istanbul kota yang paling pas untuk menetap.

Ketika bikin e-visa yang hanya 5 menit jadi, rasanya sebel. He he he. Schengen dramanya masha Allah banget sedangkan ini kok mudahnya masha Allah banget juga. Terus tiba-tiba juga dapat tiket promo serta discount untuk apartment. Aaah masha Allah nggak henti-hentinya ucap syukur. Allah memang Maha Membolak-balikkan Hati. Berbulan-bulan saya diuji lalu Allah kasih hadiah dengan segala kemudahan untuk ke Turki. Jadi ingat ketika Mas Ezza ingin ajak saya europe trip, saya bilang saya nggak mau. Saya cuma ingin mengurus Mas di rumah. Kalaupun jalan-jalan, saya hanya mau ke Turki. Negara yang banyak sejarah Islamnya. Dan mungkin itulah yang Allah kabulkan alhamdulillah.

Seminggu sebelum keberangkatan rasanya deg-degan sekali. He he he. Serasa pengantin baru lagi. Seperti apa ya suami saya sekarang. Lebih kurus atau gemuk yaa. Meskipun hampir tiap minggu skype, tapi tetap saja itu hanya layar dan pasti berbeda dengan bentuk asli. Mas Ezza pun juga selalu whatsapp "bentar lagi ketemu istri reeek". He he he.

Dan hari itu pun datang, 15 Desember 2014. Kami janjian di pintu imigrasi Ataturk Airport, Istanbul. Ketika saya keluar pesawat (belum sampai pintu imigrasi) kok serasa ada yang saya kenal di sebrang pintu saya. Seseorang yang sok-sok tutupi wajahnya pakai jaket. He he. Geli yah, kayak sinetron-sinetron. And then we met and hugged each other! "sayaaaaang.. kok kurusan.. kok gemukan ?!". He he he. Ya begitu deh norak-noraknya pasangan LDR kalau ketemu. Tapi ya itulah nikmatnya LDR.

Our first dish : RENDANG!

I made him a coat. Alhamdulillah he love it like… a lot! Yeay!
He knows how to make his wife happy. Wuhuuu oven! Let's baking together!

Best ice tea in the world! Husband and I always bought 5 litters of these for every 4 days. I wish they have their own factory or distributor here like Indomie at Instanbul. Huhu.

Our first selfie!

Gym at park.


I love his expression, but he don't. He he.



There's a sun light in front of Yeni Camii (mosque). Yeay! And yes, couple coat made by me! He he.

- 15 degrees at Uludag Mountain. 


At Gulhane Park.


No matter how expensive the pillow is,
it could never be as comfortable as your shoulder, Mas.
Ich hab dich lieb! :')


Tanpa sadar saya menulis ini sambil menangis bahagia. Well, semoga nggak ada yang beranggapan saya berlebihan. I'm just wondering.. Betapa kangennya saya dengan suami saya. Betapa luar biasanya Allah selalu memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan. Betapa luar biasanya dukungan Allah menguatkan saya bahwa saya harus tetap berjuang visa dan mengikhlaskan semua omongan miring itu. Semoga Allah tetapkan rasa syukur ini dalam hati saya untuk tidak mengeluh lagi. Karena sebanyak apapun rasa syukur yang sudah kita ucapkan, tidak akan mampu menandingi banyaknya nikmat yang sudah Allah berikan.

Hand by hand in our last day in Istanbul.

Sekarang saya sudah kembali ke Indonesia. Melanjutkan kembali pernikahan jarak jauh, menyibukkan diri dan mengurus orangtua. Trust and stay busy, that's my LDR tips. Don't stay at home like you don't have nothing to do guys. Open your mind that LDR is not the worst thing in life. I know.. Nobody said it was easy, but please just have fun with your family and friends, and you'll enjoy it. Life is too short to be unhappy. Just put our trust in Allah that there's always something to be thankful for instead of thinking about the distances. So, keep fighting for all LDR couples out there! :)

And oh Istanbul, please keep my heart tightly. I'll be back, in shaa Allah!





A quick post to share about "The It Style" by Local Brand ID. So, LocalBrand just choose me as their  next The It for January issue. I've shared a little thing about me such as my hijab experience, my simple dish recipe and of course LDR tips. *cough* feels like I'm an expert in LDR thingy. Ha ha. So, here is the link : http://www.localbrand.co.id/post/january-2014-puteri-hasanah-karunia



Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu´alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

An meinen geliebten Mann; meinen geehrtem Begleiter

Ich lobe Allah Taala  dem Barmherzigen und Allerbarmer. Außer ihm gibt es keinen Anbetungwürdigen gibt, denn er ist unser Schöpfer und Erhalter. Möge Allah Taala seine besondere Gnade, Segen und Frieden auf Muhammad, dem letzen Propheten sein.

Mein Liebster,
Jeden Tag danke ich Gott, dass er dich zu mir, und mich zu dir gebracht hat. An diesem Anfang unserer Ehe, bin ich nur eine einfache Frau, die Ihrer Persönlichkeit nicht bewusst ist. Sag mir, was du magst, damit ich es durchführe und sagen mir, was dir missfällt, so dass ich es aufgeben kann, denn mit dieser Ehe bin ich DEIN geworden und du MEIN. Mögen wir das Tuch sein, das die Schwächen des jeweils anderen vor der Welt abdeckt.


Tepat tanggal 17 Agustus 2013 alhamdulillah saya menikah dengan pria bernama Ezza Purandi Prawida. Mungkin sebelum bercerita tentang hari paling membahagiakan itu, ada baiknya saya cerita bagaimana kami bisa sampai menikah.

Akhir 2011 kami berkenalan di Jakarta. Bertemu tidak sengaja untuk menghadiri Grand Final Muslimah Beauty (1st batch). Kami sama-sama ingin menonton Lia Firdausy, teman SMA saya ketika di Malang, dan teman SMP Mas Ezza ketika di Malang. Kebetulan undangan acara tersebut, saya yang pegang. Jadilah Mas Ezza datang ke kantor saya untuk mengambil undangan dan pergi bersama ke acara tersebut. Malam itu, tidak ada yang aneh. Saya pun tidak tertarik dengan beliau, karna saya betul-betul hanya ingin menonton teman saya. Namun menurut pengakuan Mas Ezza, beliau merasakan hal yang berbeda malam itu. Beberapa hari setelahnya, Mas Ezza menghubungi saya. Dia mengajak saya bertemu. Tapi karna saya memang agak judes dengan laki-laki, saya tolak ajakan itu. Lama tidak ada contact, lalu ada telepon dari nomor yang asing. Saya angkat dan sepertinya saya kenal dengan suara itu. Ya, beliau lah yang telepon saya via Skype. Beliau meminta ijin untuk kenal lebih dekat dengan saya. Iman saya sungguh masih sangat tipis kala itu memberikan ijin berkenalan lebih dekat. Bukan berarti sekarang saya merasa jauh lebih beriman ya. Hehe. Karna saat ini ada rasa sesal karna tidak melakukan ta'aruf seperti yang diperbolehkan dalam Islam.

Singkat cerita, Mas Ezza datang ke Indonesia di akhir tahun 2012 setelah kelulusannya sebagai Bachelor Engineer. Rasa malu melihat orang yang selama ini hanya saya kenal melalui Skype. Alhamdulillah apa yang saya lihat di Skype persis dengan kehidupan nyata. Hehe. Sebelum Mas Ezza pulang, saya sudah sangat dekat dengan keluarganya. Mungkin itu salah satu yang membuat Mas Ezza yakin dengan saya. Agak lama beliau liburan di Indonesia, lalu kami merencanakan menikah akhir tahun 2014 selepas beliau lulus dari studi S2-nya. Seiring berjalannya waktu dan semakin dekatnya hubungan kami dengan keluarga masing-masing, membuat saya juga semakin yakin kepada beliau.

Disaat beliau kembali ke Jerman, ada perasaan tak nyaman dalam pikiran saya. Saya ini berkerudung. Saya ini Muslim. Tapi kenapa saya menjalankan hubungan yang saya tahu itu dilarang, yaitu pacaran. Meskipun kami bertemu setahun sekali, tapi apakah mengucapkan rasa sayang via telepon/IM itu boleh ? Tentu jawabannya tidak. Perasaan bersalah itu semakin kuat. Apalagi saya memang sedang giat mencari lingkungan yang semakin membawa saya dekat dengan Allah SWT. Saya takut dosa. Saya nggak mau beban Bapak semakin berat karna menanggung dosa yang sudah saya sadari ini. Lalu saya utarakan perasaan saya tersebut ke Mas Ezza. Entah peringatan atau ultimatum namanya tapi saya bersyukur saya berani mengucapkan kalimat tegas, "aku sudah siap menikah tapi aku nggak bisa nunggu sampai kamu lulus master. Kalau kamu siapnya setelah master, lebih baik kita tunggu waktu itu tanpa label pacaran. Tidak ada alasan lain selain takut kepada Allah SWT dan nggak mau Bapak & Papa ikut berdosa karna hubungan kita. Dan karna liburan kamu baru ada bulan Februari 2014, jadi bulan itu menjadi bulan terakhir aku tunggu kepastian kamu", kurang lebih seperti itu.

Perasaan kami tidak menentu setelah saya berani tegas saat itu. Karna saya yakin bukan Mas Ezza yang tidak berani menikah, namun ada tanggung jawab dalam hidupnya untuk menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang master. Saya yakinkan kepada beliau bahwa master itu urusan duniawi. In shaa Allah tetap akan dilancarkan Allah SWT. Juga saya yakinkan bahwa nafkah/kaya bukanlah syarat untuk menikah, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan suami setelah menikah.

Beberapa minggu setelah ultimatum tersebut, saya dapat kabar yang sangat melegakan hati, bahwa orangtua Mas Ezza mengijinkan kami menikah. "Alhamdulillah, papa mama setuju. Dan kamu nggak perlu tunggu sampai Februari 2014, in shaa Allah sebelum Idul Fitri ini aku pulang". Alhamdulillah lega rasanya. Jadi saya pun tak sabar meminta ijin dari orangtua saya. Memang janji Allah itu pasti untuk makhluknya yang ingin ibadah.

Orangtua saya mengijinkan. Papa Mas Ezza datangi Bapak saya untuk melamar secara informal, dan alhamdulillah ada kesepakatan untuk diadakannya lamaran formal tanggal 6 Juli 2013. Dan tentu saja tanpa kehadiran Mas Ezza. Beliau hanya bisa melihat prosesi lamaran via Skype menggunakan baju batik, bahkan belum mandi karna masih sangat pagi di Jerman. Hehe.

Menangis diri ini selama proses lamaran. Tidak menyangka kalau saya sudah di khitbah seseorang. Perasaan bahagia dan haru. Keluarga sepakat menikahkan kami tanggal 17 Agustus 2013, yang kebetulan Hari Kemerdekaan Indonesia. 

Oh iya, ada yang saya lupa ceritakan, saya mengalami apa yang banyak orang katakan bahwa rejeki orang yang ingin menikah karna ibadah akan terbuka seluas2nya. Saya tiba-tiba dikasih kejutan luar biasa dari Allah. Rejeki yang beda sekali rasanya ketika didapat. Itulah janji Allah. Hanya Allah yang tidak pernah ingkar terhadap janjinya. Semakin yakin bahwa menikah itu adalah salah satu nikmat besar dari Allah. Keyakinan itu yang menguatkan saya ketika mengalami pre wedding syndrome (PWS). Bagian PWS ini nggak usah diceritakan ya. Hehe. Karna kan kita harus menjadi "pakaian" yang baik untuk suami & keluarga besar.

Banyaknya pekerjaan sebelum menikah, tidak mengurangi semangat saya mencari tempat untuk akad nikah kami. Sudah booking tanggal di Masjid Bank Indonesia, namun ternyata seluruh area masjid tidak bisa dipakai untuk makan bersama. Karna niat kami hanya melangsungkan akad tanpa resepsi. Saya keliling masjid-masjid indah di Jakarta, namun gagal dengan alasan 17 Agustus adalah hari libur bersama. Akhirnya, tanpa sengaja saya melewati sebuah hotel tempat dulu ayah saya pernah bekerja. Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih. Alhamdulillah pihak hotel setuju dengan tanggal yang diajukan, juga setuju untuk tidak membebankan biaya dekorasi karna memang saya yang akan dekor sendiri (tanpa vendor). Namanya juga akad nikah, jadi berusaha sesederhana mungkin tapi tetap cantik.

Mulai dari baju nikah sampai undangan saya update sendiri. Alhamdulillah merasakan nikmatnya networking meskipun hectic-nya luar biasa. Hehe. Untuk baju nikah, kami dibantu Uni Ria Miranda. Untuk hijab stylist, kami dibantu Aprilia Islamia & Irma Nurul Hakim. Untuk MC, kami dibantu Mirza. Untuk pembacaan saritilawah, kami dibantu Meyda Sefira. Untuk dokumentasi foto & video, kami dibantu Mbak Afida Sukma & Hangga Sukmono. Untuk dekorasi, kami dibantu Anita Yuni & Mas Ananta. Untuk makeup, kami dibantu Mbak Yunita. Dan untuk undangan, kami dibantu salah satu online shop. Hehe. Pssst, undangan tidak kami cetak lho. Karna kan akad nikah, jadi segala budget yang tidak perlu ya tidak kami lakukan. Termasuk tidak dibuatnya souvenir. Alhamdulillah semua berjalan lancar meskipun dengan persiapan hanya +/- 3 bulan.

H-3 saya mengadakan technical meeting bersama teman-teman dekat kami di Jakarta untuk membantu mengatur jalannya acara ketika hari H. Boleh ya saya sebutkan disini. Ada Aldilla Jamil, Yasinta, Gini Gamelia, Reza Arya Putra, Mounru Walewangko, Mirza, Intan dan Luthfiati Rizka. Setelah meeting ini, kami dipingit. Hehe.

Sampailah di hari paling berharga dalam hidup kami. Hari Kemerdekaan Indonesia yang juga memerdekakan kami dari jeratan syaiton. Hehehe. Jantung berdebar bukan main. Takut Mas Ezza tidak lancar saat mengucapkan Ijab. Juga rasa kantuk yang luar biasa. Karna saya mendekor sampai jam 12 malam, lalu mengarang tulisan ijin menikah sampai jam 3 pagi. Alhamdulillah dengan penuh airmata bahagia, hari itu berakhir dengan sempurna. Semua masalah yang terjadi ketika PWS seakan hilang entah kemana. Allah bersama dengan orang-orang yang yakin terhadap janjinya.

Terima kasih Allah SWT, terima kasih Rasulullah atas tauladan dalam sunnah menikah ini. Terima kasih Bapak, Ibu, Papa, Mama sudah membesarkan dan menyayangi kami dengan ikhlas. Terima kasih Mamas & Mbak Ega, Abang & Mbak Lala, Mbak Dita & Bang Nando atas wejangan-wejangannya yang bermanfaat. Terima kasih sahabat-sahabat yang saya sebutkan diatas tadi untuk seluruh bantuannya. Terima kasih saudara-saudara & teman-teman yang mau datang ke Jakarta. Terima kasih Meyda atas kejutan yang mengharukan ketika prosesi sungkeman.

Dan terima kasih untuk suamiku, Ezza Purandi Prawida. I love you for the sake of Allah SWT sayang..







P.S : Saya dan suami beserta keluarga mohon maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman yang tidak tahu dan tidak diundang dalam pernikahan ini dikarenakan memang belum memungkinkan mengadakan resepsi. In shaa Allah ketika ada umur & rezeki, kami masih bisa mengadakan resepsi. Doakan kami agar bisa menjalankan pernikahan dengan baik dan benar, dapat melahirkan keturunan yang sholeh & sholeha, dan selalu dilindungi Allah SWT. Aamiin.