T E V A Z U

A journal of life and modest style.

17 Agustus 2013

By January 15, 2014


Tepat tanggal 17 Agustus 2013 alhamdulillah saya menikah dengan pria bernama Ezza Purandi Prawida. Mungkin sebelum bercerita tentang hari paling membahagiakan itu, ada baiknya saya cerita bagaimana kami bisa sampai menikah.

Akhir 2011 kami berkenalan di Jakarta. Bertemu tidak sengaja untuk menghadiri Grand Final Muslimah Beauty (1st batch). Kami sama-sama ingin menonton Lia Firdausy, teman SMA saya ketika di Malang, dan teman SMP Mas Ezza ketika di Malang. Kebetulan undangan acara tersebut, saya yang pegang. Jadilah Mas Ezza datang ke kantor saya untuk mengambil undangan dan pergi bersama ke acara tersebut. Malam itu, tidak ada yang aneh. Saya pun tidak tertarik dengan beliau, karna saya betul-betul hanya ingin menonton teman saya. Namun menurut pengakuan Mas Ezza, beliau merasakan hal yang berbeda malam itu. Beberapa hari setelahnya, Mas Ezza menghubungi saya. Dia mengajak saya bertemu. Tapi karna saya memang agak judes dengan laki-laki, saya tolak ajakan itu. Lama tidak ada contact, lalu ada telepon dari nomor yang asing. Saya angkat dan sepertinya saya kenal dengan suara itu. Ya, beliau lah yang telepon saya via Skype. Beliau meminta ijin untuk kenal lebih dekat dengan saya. Iman saya sungguh masih sangat tipis kala itu memberikan ijin berkenalan lebih dekat. Bukan berarti sekarang saya merasa jauh lebih beriman ya. Hehe. Karna saat ini ada rasa sesal karna tidak melakukan ta'aruf seperti yang diperbolehkan dalam Islam.

Singkat cerita, Mas Ezza datang ke Indonesia di akhir tahun 2012 setelah kelulusannya sebagai Bachelor Engineer. Rasa malu melihat orang yang selama ini hanya saya kenal melalui Skype. Alhamdulillah apa yang saya lihat di Skype persis dengan kehidupan nyata. Hehe. Sebelum Mas Ezza pulang, saya sudah sangat dekat dengan keluarganya. Mungkin itu salah satu yang membuat Mas Ezza yakin dengan saya. Agak lama beliau liburan di Indonesia, lalu kami merencanakan menikah akhir tahun 2014 selepas beliau lulus dari studi S2-nya. Seiring berjalannya waktu dan semakin dekatnya hubungan kami dengan keluarga masing-masing, membuat saya juga semakin yakin kepada beliau.

Disaat beliau kembali ke Jerman, ada perasaan tak nyaman dalam pikiran saya. Saya ini berkerudung. Saya ini Muslim. Tapi kenapa saya menjalankan hubungan yang saya tahu itu dilarang, yaitu pacaran. Meskipun kami bertemu setahun sekali, tapi apakah mengucapkan rasa sayang via telepon/IM itu boleh ? Tentu jawabannya tidak. Perasaan bersalah itu semakin kuat. Apalagi saya memang sedang giat mencari lingkungan yang semakin membawa saya dekat dengan Allah SWT. Saya takut dosa. Saya nggak mau beban Bapak semakin berat karna menanggung dosa yang sudah saya sadari ini. Lalu saya utarakan perasaan saya tersebut ke Mas Ezza. Entah peringatan atau ultimatum namanya tapi saya bersyukur saya berani mengucapkan kalimat tegas, "aku sudah siap menikah tapi aku nggak bisa nunggu sampai kamu lulus master. Kalau kamu siapnya setelah master, lebih baik kita tunggu waktu itu tanpa label pacaran. Tidak ada alasan lain selain takut kepada Allah SWT dan nggak mau Bapak & Papa ikut berdosa karna hubungan kita. Dan karna liburan kamu baru ada bulan Februari 2014, jadi bulan itu menjadi bulan terakhir aku tunggu kepastian kamu", kurang lebih seperti itu.

Perasaan kami tidak menentu setelah saya berani tegas saat itu. Karna saya yakin bukan Mas Ezza yang tidak berani menikah, namun ada tanggung jawab dalam hidupnya untuk menyelesaikan pendidikannya sampai jenjang master. Saya yakinkan kepada beliau bahwa master itu urusan duniawi. In shaa Allah tetap akan dilancarkan Allah SWT. Juga saya yakinkan bahwa nafkah/kaya bukanlah syarat untuk menikah, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan suami setelah menikah.

Beberapa minggu setelah ultimatum tersebut, saya dapat kabar yang sangat melegakan hati, bahwa orangtua Mas Ezza mengijinkan kami menikah. "Alhamdulillah, papa mama setuju. Dan kamu nggak perlu tunggu sampai Februari 2014, in shaa Allah sebelum Idul Fitri ini aku pulang". Alhamdulillah lega rasanya. Jadi saya pun tak sabar meminta ijin dari orangtua saya. Memang janji Allah itu pasti untuk makhluknya yang ingin ibadah.

Orangtua saya mengijinkan. Papa Mas Ezza datangi Bapak saya untuk melamar secara informal, dan alhamdulillah ada kesepakatan untuk diadakannya lamaran formal tanggal 6 Juli 2013. Dan tentu saja tanpa kehadiran Mas Ezza. Beliau hanya bisa melihat prosesi lamaran via Skype menggunakan baju batik, bahkan belum mandi karna masih sangat pagi di Jerman. Hehe.

Menangis diri ini selama proses lamaran. Tidak menyangka kalau saya sudah di khitbah seseorang. Perasaan bahagia dan haru. Keluarga sepakat menikahkan kami tanggal 17 Agustus 2013, yang kebetulan Hari Kemerdekaan Indonesia. 

Oh iya, ada yang saya lupa ceritakan, saya mengalami apa yang banyak orang katakan bahwa rejeki orang yang ingin menikah karna ibadah akan terbuka seluas2nya. Saya tiba-tiba dikasih kejutan luar biasa dari Allah. Rejeki yang beda sekali rasanya ketika didapat. Itulah janji Allah. Hanya Allah yang tidak pernah ingkar terhadap janjinya. Semakin yakin bahwa menikah itu adalah salah satu nikmat besar dari Allah. Keyakinan itu yang menguatkan saya ketika mengalami pre wedding syndrome (PWS). Bagian PWS ini nggak usah diceritakan ya. Hehe. Karna kan kita harus menjadi "pakaian" yang baik untuk suami & keluarga besar.

Banyaknya pekerjaan sebelum menikah, tidak mengurangi semangat saya mencari tempat untuk akad nikah kami. Sudah booking tanggal di Masjid Bank Indonesia, namun ternyata seluruh area masjid tidak bisa dipakai untuk makan bersama. Karna niat kami hanya melangsungkan akad tanpa resepsi. Saya keliling masjid-masjid indah di Jakarta, namun gagal dengan alasan 17 Agustus adalah hari libur bersama. Akhirnya, tanpa sengaja saya melewati sebuah hotel tempat dulu ayah saya pernah bekerja. Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih. Alhamdulillah pihak hotel setuju dengan tanggal yang diajukan, juga setuju untuk tidak membebankan biaya dekorasi karna memang saya yang akan dekor sendiri (tanpa vendor). Namanya juga akad nikah, jadi berusaha sesederhana mungkin tapi tetap cantik.

Mulai dari baju nikah sampai undangan saya update sendiri. Alhamdulillah merasakan nikmatnya networking meskipun hectic-nya luar biasa. Hehe. Untuk baju nikah, kami dibantu Uni Ria Miranda. Untuk hijab stylist, kami dibantu Aprilia Islamia & Irma Nurul Hakim. Untuk MC, kami dibantu Mirza. Untuk pembacaan saritilawah, kami dibantu Meyda Sefira. Untuk dokumentasi foto & video, kami dibantu Mbak Afida Sukma & Hangga Sukmono. Untuk dekorasi, kami dibantu Anita Yuni & Mas Ananta. Untuk makeup, kami dibantu Mbak Yunita. Dan untuk undangan, kami dibantu salah satu online shop. Hehe. Pssst, undangan tidak kami cetak lho. Karna kan akad nikah, jadi segala budget yang tidak perlu ya tidak kami lakukan. Termasuk tidak dibuatnya souvenir. Alhamdulillah semua berjalan lancar meskipun dengan persiapan hanya +/- 3 bulan.

H-3 saya mengadakan technical meeting bersama teman-teman dekat kami di Jakarta untuk membantu mengatur jalannya acara ketika hari H. Boleh ya saya sebutkan disini. Ada Aldilla Jamil, Yasinta, Gini Gamelia, Reza Arya Putra, Mounru Walewangko, Mirza, Intan dan Luthfiati Rizka. Setelah meeting ini, kami dipingit. Hehe.

Sampailah di hari paling berharga dalam hidup kami. Hari Kemerdekaan Indonesia yang juga memerdekakan kami dari jeratan syaiton. Hehehe. Jantung berdebar bukan main. Takut Mas Ezza tidak lancar saat mengucapkan Ijab. Juga rasa kantuk yang luar biasa. Karna saya mendekor sampai jam 12 malam, lalu mengarang tulisan ijin menikah sampai jam 3 pagi. Alhamdulillah dengan penuh airmata bahagia, hari itu berakhir dengan sempurna. Semua masalah yang terjadi ketika PWS seakan hilang entah kemana. Allah bersama dengan orang-orang yang yakin terhadap janjinya.

Terima kasih Allah SWT, terima kasih Rasulullah atas tauladan dalam sunnah menikah ini. Terima kasih Bapak, Ibu, Papa, Mama sudah membesarkan dan menyayangi kami dengan ikhlas. Terima kasih Mamas & Mbak Ega, Abang & Mbak Lala, Mbak Dita & Bang Nando atas wejangan-wejangannya yang bermanfaat. Terima kasih sahabat-sahabat yang saya sebutkan diatas tadi untuk seluruh bantuannya. Terima kasih saudara-saudara & teman-teman yang mau datang ke Jakarta. Terima kasih Meyda atas kejutan yang mengharukan ketika prosesi sungkeman.

Dan terima kasih untuk suamiku, Ezza Purandi Prawida. I love you for the sake of Allah SWT sayang..







P.S : Saya dan suami beserta keluarga mohon maaf sebesar-besarnya untuk teman-teman yang tidak tahu dan tidak diundang dalam pernikahan ini dikarenakan memang belum memungkinkan mengadakan resepsi. In shaa Allah ketika ada umur & rezeki, kami masih bisa mengadakan resepsi. Doakan kami agar bisa menjalankan pernikahan dengan baik dan benar, dapat melahirkan keturunan yang sholeh & sholeha, dan selalu dilindungi Allah SWT. Aamiin.

You Might Also Like

22 comments

  1. Indah sekali, Happy wonderfull wedding Dear. :)

    ReplyDelete
  2. uti, kamu masi kursus digoethe ga siy??

    ReplyDelete
  3. kak ceritanya inspiring banget, boleh ijin share??

    ReplyDelete
  4. Indah bnget critax kak. Ka Uti ijin pke model gaunx yaaa??
    Suka bgt sm gaun ka uti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya. Kalau itu ijin sama Ria Miranda, designernya. Hehe.

      Delete
  5. Izin share ya agar jadi pedoman , tauladan..bagi yg belum....

    ReplyDelete
  6. Selamat ya Putri...semoga sakinah mawadah warahmah. Aamiiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhoooo.. Onok Mas Imam sampek sini. Inggih Mas.. Maturnuwun..

      Delete
  7. subhanallah....semoga segera diberi keturunan yang sholeh dan sholeha ya kak...aku nangis pas liat papa kaka menangis...dan pasti kak sefira juga sangat menghayati tilawahnya sehingga juga mengeluarkan air mata...
    Sukses dunia akhirat ya kak Puteri..aamiin

    ReplyDelete
  8. subhanallah teh aku bacanya sampe merinding ..semoga rumah tangga teteh selalu dalam keberkahan yah teh Amin...

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, ikut bahagia membacanya. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Ingat di dalam kehidupan berkeluarga adalah menyatukan dua insan yang dipisahkan puluhan tahun dengan latar belakang berbeda. Semua dapat dilalui bila mempunyai tujuan hidup yang sama yakni setiap langkah diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka, Allah SWT akan selalu memberikan jalan yang lurus yang penuh rahmat dan barokah. Aamiin YRA.

    ReplyDelete
  10. Ijin share ya...sungguh menyentuh kak :)

    ReplyDelete
  11. janji Allah itu pasti
    subhanallah

    ReplyDelete