T E V A Z U

A journal of life and modest style.

REFLECTION

By November 18, 2016

Refleksi itu apa sih ?

Menurut KBBI, arti Refleksi adalah sebagai berikut :

/re·flek·si/ /réfléksi/ 1. Gerakan, pantulan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar: penyair pada hakikatnya adalah suatu -- dari masyarakat sekelilingnya; 2. Gerakan otot (bagian badan) yang terjadi karena suatu hal dari luar dan di luar kemauan atau kesadaran; 3. Cerminan; gambaran: penggunaan bahasa merupakan -- dari kecintaan terhadap bahasa itu.

Lalu bagaimana tentang refleksi seseorang dalam kehidupan sosialnya ? Apakah benar kalimat "don't judge a book by it's cover ?" Ataukah justru kita boleh menilai sesorang dari luarnya, karna hati siapa yang tahu ?

Hannover, Germany
Hari ini saya sengaja keluar rumah sendiri untuk pertama kalinya pasca laparotomy. Nekat memberanikan diri karena cuaca sangat bagus untuk bisa dinikmati. Jadi saya putuskan untuk pergi ke area Rathaus. Sejak pindah ke Hannover, saya belum sempat mengunjungi touristy places disini. Begitu sampai di depan Rathaus, terdapat danau kecil yang cantik dan terlihat merefleksikan beberapa pohon yang ada disekitarnya. Karena pohonnya cantik, maka refleksinya pun cantik. Lalu saya langsung teringat pada negara tercinta saya, Indonesia. Bukan, bukan homesick. Tapi saya sedih melihat semua yang terjadi di Indonesia beberapa bulan ini. Negeri yang indah & kaya sedang "diacak-acak" keindahan & kekayaannya. Bukan hanya oleh petinggi negeri ini, tapi juga oleh rakyatnya sendiri.

Kalau boleh dihubungkan dengan topik "Reflection" kali ini, saya mau bertanya pada semua teman se-akidah saya, bagaimana kah kalian merefleksikan keimanan kalian dalam kehidupan sehari-hari ? Apakah refleksi luar tak menjadi pertimbangan & penilaian kalian ketika memilih sekolah, perusahaan, partner bisnis bahkan jodoh ? Saya coba berikan sedikit analogi ya.

Analogi pertama :
Misal si A ingin mendaftar ke Universitas XY. Lalu si B, teman sekolahnya A mengatakan bahwa Universitas XY itu jelek karna pernah tawuran (hanya lihat di media tanpa tahu dalamnya kampus tersebut seperti apa dan bagaimana). Lalu A telan mentah-mentah perkataan si B dan tak jadi mendaftar di Universitas XY. Sedangkan si B terus menfitnah sekolah tersebut ke temannya yang lain, hanya agar dia bisa satu sekolah lagi dengan teman-temannya.


Analogi kedua :
Misal, si Rangga ingin khitbah si Cinta. Lalu sebelumnya, Rangga cari tau dulu bagaimana refleksi seorang Cinta dari habluminnallah-nya dan habluminannaas-nya. Bukan percaya gosip si ini dan si itu. Juga bukan dari proses pacaran yang (terima atau tidak) memang banyak mudharatnya.

Kira-kira, mana yang lebih sering terjadi ? Analogi pertama atau kedua ? Menilai orang hanya dari yang tampak lalu menyebar fitnah, atau menilai orang dari yang tampak plus cari tahu dari yang sengaja disembunyikan lalu bijak dalam mengambil keputusan ?

Kalau boleh bersuara sedikit saja, saya disini bukan mau sok pintar dan sok suci seperti yang kalian sering tuduhkan ke para pendukung #AksiDamai411. Tapi hanya saja, saya ingin mengingatkan bahwa kita perlu melihat refleksi seperti apa yang kita (sebagai muslim) pantulkan selama ini.

Sudah sempurna kah sholat kita hingga kita berhak menghujat ulama kita yang ibadah sholatnya jelas jauuuh diatas kita ? Sudah rutinkah sedekah kita hingga kita berhak memfitnah teman se-akidah kita dibayar IDR 500K per orang saat #AksiDamai411 ? Sudah banyakkah surat dalam Al-Qur'an dan hadith yang kita hafal hingga kita berhak memaki hafidz dan ahli tafsir ? Jika jawabannya belum, dan masih hidup sebagai manusia hedon', maka diamlah, perbaiki diri dan cukup berdoa agar bangsa ini masih diselamatkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dengan begitu, kita turut membantu merefleksikan keindahan Islam yang sebenarnya.

Ayat dibawah ini adalah pesan dari langit untuk kalian yang sering bertanya "Untuk apa bela agama Allah ? Padahal Allah itu tetap mulia tanpa kalian bela. Pun dengan Qur'an yang tetap suci & mulia tanpa kalian bela".

QS. Al - Hadid (57 : 25)

 أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖوَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚإِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa".

Tulisan ini saya buat bukan untuk memperkeruh suasana. Juga bukan untuk menghakimi teman-teman muslim saya yang kontra akan #AksiDamai411. Ini untuk saya sebagai self reminder karena murni ini keresahan hati saya yang jelas masih miskin ilmu. Juga untuk teman-teman yang pro agar tetap tawadhu.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala melindungi kita dan negeri ini dari segala fitnah dan kedzoliman.

You Might Also Like

3 comments

  1. Yang seing terjadi di dunia ini adalah analogi pertama, karna saya pribadi sering dan pernah mengalami posisi seperti itu. Hanya saja saya memiliki pikiran untuk tidak langsung menelan omongan2 orang ketika mereka berbicara seolah-olah mau memfitnah.

    ReplyDelete
  2. Nice post mba, and I'm on it. Alangkah lebih baik kita diam, daripada semakin memperkeruh situasi tanpa kita benar-benar tahu apa yang terjadi. Karena pada era sekarang ini - bukan fitnah, tapi pendapat pribadi - media tidak ada yang bersifat netral, slalu berat sebelah, dan menjadi pihak yang mengkambing hitamkan. Hope it's just my opinion. Sedih rasanya kita bersaudara dan terpecah belah seperti ini.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah... Aa Gym bilang, teko hanya mengeluarkan isi teko.. di dalam kopi yang keluar pasti kopi...

    Senang membaca this post. Semoga dijaga Allah. Kita berada di akhir zaman, berada di jalan Allah seperti menggenggam bara api. Guru Guru saya banyak yang ikut aksi bela islam, subhanallah tawadhu nya guru guru saya.

    Bila masih banyak yang menuduh aksi ini, baiknya ikut dan lihat sendiri apa yang terjadi di lapangan. Sangaat jauh dari pemberitaan media. Justru yang terjadi di lapangan, persaudaraan sangat kental, haru dan terus menangis melihat bagaimana semua hati bisa berkumpul hanya karena Allah.:

    Love your post so much :)

    ReplyDelete